ANTARA DUA TAKDIR, BERPACU SATU WAKTU

DISCLAIMER:
Kisah persalinan ini dibuat untuk mengabadikan suatu momen penting dalam kehidupan penulis. Tidak ada maksud/ niatan penulis untuk menyerang, menyindir, atau memojokkan kaum ibu yang memilih cara bersalin yang berbeda. Juga, penulis tidak ada niatan untuk menyerukan kepada para ibu yang akan melahirkan untuk melakukan hal yang sama seperti yang penulis lakukan atas pilihan-pilihan persalinannya. Bagaimanapun, segala tindakan pengambilan keputusan harus didasari oleh niat yang baik dan ilmu yang mumpuni, serta disertai kesadaran dan kesiapan untuk menghadapi konsekuensi yang mungkin terjadi.

SEBELUM MEMBACA kisah persalinan saya yang keempat ini, ada baiknya memulai membaca dari kisah persalinan pertama, kedua, dan ketiga saya terlebih dahulu. Hal ini ditujukan agar pembaca memahami istilah-istilah dan ideologi dalam dunia persalinan yang digunakan dalam tulisan ini, dan agar pembaca mendapatkan gambaran utuh mengapa penulis mengambil keputusan-keputusan yang mungkin dinilai tidak biasa dalam mempersiapkan persalinannya.

Kisah persalinan anak pertama: https://syamileducare.wordpress.com/2016/08/09/my-childbirth-my-adventure/

Kisah persalinan anak kedua: https://syamileducare.wordpress.com/2019/04/17/beauty-and-the-best /

Kisah persalinan anak ketiga: https://syamileducare.wordpress.com/2019/05/18/unassisted-homebirth-ketika-dunia-terasa-hanya-milik-berdua/

ANTARA DUA TAKDIR, BERPACU SATU WAKTU

Birthstory Fadeyka Musa ‘Adiyat

Bismillahirrahmanirrahim..

(Allah) yang menjadikan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” {QS. Al-Mulk: 2}

Ada momen yang takkan dapat dilupakan di bulan Agustus ini. Bulan ini diawali dengan duka kehilangan sesosok ibu yang amat pemaaf lagi lembut hatinya, tanpa sempat kami menemaninya di hari-hari terakhir menjelang kepergiannya untuk selamanya. Pilu.. Sesak.. Tetapi lalu Allah datangkan sebuncah kebahagiaan di penghujung bulan yang sama, dengan kelahiran seorang bayi laki-laki dengan segala kemudahan proses persalinannya..

Kehamilan keempat ini, bagiku dan suami, adalah hal yang diluar harapan. Pasalnya, saat itu kami sedang dalam proses mewujudkan impian dan rencana jangka panjang keluarga. Sedangkan kehamilan ini mengharuskan kami menunda banyak kegiatan yang sudah lama direncanakan, dan membuat kami mengatur ulang kembali banyak hal. Qadarullah wa maa syaa-a fa’ala. Kami berencana, Allah pun punya rencana (atas kami), dan Allah adalah sebaik-baik Perencana. Ibarat mendapat kado yang bungkusannya berlapis-lapis, kami hanya perlu bersabar menjalani hingga nanti tampaklah hadiah sesungguhnya dari Allah atas rencana-Nya ini, insya Allah.

Tidak banyak pengalaman yang berbeda dari kehamilan kali ini dengan kehamilan yang sebelumnya, selain tentunya terasa lebih berat saja secara fisik karena memang faktor bertambahnya usia dan seringnya hamil dengan jarak dekat. Morning sickness, nyeri tulang panggul dan perut bawah, dan gejolak hormon adalah termasuk ujian kehamilan yang kurasa kali ini lebih parah daripada kehamilan sebelumnya. Alhamdulillah ‘ala kulli haal. Semoga semua sakit, lelah, dan susah payah yang dilalui menjadi penggugur dosa-dosa.

Alhamdulillah kehamilanku berjalan baik dan sehat tanpa ada masalah sedikitpun pada kandungan ataupun janin. Jazaakumullah khoyr kepada teman-teman dan karib-kerabat yang banyak mendoakan kesehatan dan kesejahteraan untuk kami. Bahkan selama kehamilan ini, kurasakan banyak urusanku dan suami senantiasa dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah. Seolah seperti sedang dimanja dan dihibur Allah agar jangan bersedih atas rencana-rencana diri yang harus kandas/ tertunda lama sebelum sempat terwujud.

Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, ‘Janganlah engkau (Maryam) bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.’” {QS. Maryam: 24}

Semua baik-baik saja, at least sampai memasuki minggu ke-37 kehamilan.

Di penghujung bulan Juli, kami mendapat kabar musibah dari keluarga di Jogja. Ibu mertuaku yang memang sudah stroke, terjatuh di kamar mandi rumahnya dan terantuk di bagian kepala. Bapak mertuaku yang mengabari suami dan dari Bapak pula kami mengetahui kondisi Ibu memburuk sejak terjatuh itu. Ibu benar-benar hanya dapat berbaring dan bicaranya mulai tidak terlafal dengan jelas.

Suamiku yang mendengar kabar ibu yang kian memburuk dan terus memburuk pun menjadi kalut dan bingung. Aku paham dan siap mendukung jika ia ingin segera pulang ke Jogja dan menemui Ibu, menemani dan merawat Ibu di saat kritis seperti ini. Namun memang saat itu kehamilanku sudah memasuki HPL, gelombang cinta si kecil bisa datang sewaktu-waktu. Kondisi ini tidak mudah bagi suamiku, sangat membuatnya dilema. Aku pun perih dan bingung. Aku menyaksikan betapa tangisnya, menyaksikan betapa gelisah dan gundah gulananya setiap kali keluarga di Jogja mengabari perkembangan kondisi Ibu dan memintanya segera pulang. Berat sekali ia rasakan musibah ini yang mengharuskan dia memilih hadir diantara dua ketidakpastian yang sama-sama berpacu dengan waktu: kelahiran.. dan kematian.

Suami akhirnya memutuskan untuk menunda pulang ke Jogja paling tidak sampai bayi kami lahir. Jauh sebelum kabar musibah ini, kami memang sudah merencanakan akan menjalani proses persalinan berdua lagi di rumah (unassisted homebirth). Keputusan ini diambil setelah segala pertimbangan termasuk utamanya pertimbangan kenyamanan dan sikon pandemi covid-19. Kami hanya akan meminta bantuan nakes atau pergi ke rumah sakit jika memang dalam prosesnya nanti ada kondisi gawat darurat.

Kehadiran suamiku saat aku melahirkan nanti, bukanlah sekedar ingin menyambut buah hatinya ke dunia. Lebih dari itu, ia ingin terlibat dan membantu keseluruhan prosesnya, ia ingin berperan aktif memastikan aku dan bayinya selamat melalui proses persalinannya. Atas pilihannya ini, aku hanya bisa mendukung, tetap mensyukuri niat baiknya, dan terus melangitkan doa untuk ibu.

HPL terlewat, usia kandunganku saat itu 39 minggu hampir 40 minggu. Masih belum ada mucus plug ataupun gelombang kontraksi, hanya kontraksi palsu yang sudah sering datang menyapa. Dari sekian kali hamil, baru pada kehamilan inilah aku dan suami sampai berharap-harap janin ini segera lahir. “(di pagi hari) Kalau bisa hari ini”.. “(mentari berlalu) kalau bisa malam ini”.. “(malam berlalu) kalau bisa besok”.. begitu terus setiap hari kami berucap dengan nada memohon, berdoa kepada Allah dengan sedikit memaksa. Astaghfirullah. Betapa lemahnya kita ini sebagai makhluk.. tak ada daya upaya SAMA SEKALI untuk mendikte Allah, dalam hal apapun, sekuat apapun kita mensugesti diri. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Sejak Ibu jatuh sakit parah, setiap hari yang berlalu tanpa tanda-tanda kelahiran membuat kami tertekan dan was-was. Kami hanya berharap, benar-benar berharap, suamiku sempat bertemu dengan Ibu sebelum yang terburuk terjadi. Segala ikhtiar yang bisa dilakukan untuk mempercepat lahir sudah kami lakukan; banyak berjalan-berjongkok, senam hamil, makan nanas-durian-kiwi-kurma, berbekam, pijat, dan lainnya. Qadarullah memang belum waktunya.

Malam hari tanggal 8 Agustus, suami dikabari kondisi Ibu yang sudah sangat parah. Ibu mengeluarkan cairan berwarna hitam dari mulutnya dan sudah tidak mau makan-minum, sudah tak banyak gerak ataupun bicara. Suamiku begitu kalut sehingga tak bisa tertidur malam itu. Sempat ia tertidur sebentar sekitar jam dua dini hari, tetapi lalu tiba-tiba terbangun terduduk dan menangis sesunggukan seperti habis mimpi buruk yang teramat buruk. Ketika kutanyakan, suami pun tak tahu mengapa tiba-tiba teringat kenangan-kenangan bersama Ibu dan seketika terasa sesak dan sangat sedih.

Kami khawatir ini adalah pertanda bahwa Ibu sungguh tak bisa berlama lagi. Aku berusaha menenangkan suamiku dan menanyakan kembali, apakah ia mau langsung ambil tiket pesawat paling pagi saja untuk pulang ke Jogja. Aku mencoba meyakinkannya bahwa aku tidak akan apa-apa ditinggal olehnya beberapa hari. Sejujurnya, akupun bingung bagaimana jika kontraksi datang saat suamiku sedang di kampung halaman. Sungguh akupun tak punya rencana cadangan, karena melahirkan di rumah sakit/ klinik bidan sama sekali bukan pilihanku. Untuk homebirth dengan bidan sertifikasi AMANI seperti saat lahiran Denzel pun biayanya tak terjangkau bagi kami saat ini.

Aku hanya berpikiran bahwa saat seperti ini bukanlah saatnya aku mengkhawatirkan kehamilanku. Biarlah.. Allah pasti sudah merencanakan yang terbaik nanti saat waktu persalinan tiba, dengan atau tanpa kehadiran suamiku. Kupikir.. saat ini adalah saatnya kami mendahulukan Ibu. Qadarullah suami tetap berkeputusan untuk menanti bayinya lahir, baru bergegas pulang ke Jogja. Sebuah keputusan yang hanya bertahan beberapa jam saja.

Akhirnya datanglah hari dimana ketetapan Allah berlaku atas kami semua dalam perkara ini. Hari itu hari Ahad, 9 Agustus 2020. Suami yang sedang masuk kerja shift pagi, mengabariku sekitar jam 12 dzuhur bahwa Ibu semakin parah dan bahwa ia akan izin pulang cepat dari kantor. Aku saat itu mengerti, pastilah kali ini suami mutlak harus segera pulang ke Jogja, tanpa pikir-pikir dua kali.

Ketika akhirnya ia sampai di rumah dan kami sedang mencari-cari tiket pulang yang paling cepat dan terjangkau, suami mendapat kabar dari Jogja. Ibu sudah tiada. Ibu meninggal dunia sekitar jam 1 siang hari itu.

Bun.. kita terlambat, Bun. Ibu udah gak ada.

Yaa Rabbi.. pecahlah tangisku dan suami. Kami berpelukan erat dalam kalut dan tangis, berharap tubuh Ibu-lah yang saat itu kami peluk. Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un..Allahummaghfirlaha..

Penyesalan mendalam, amat sangat perih kurasakan. Apatah lagi yang dirasakan oleh suamiku. Sore itu juga suamiku berangkat ke Jogja ditemani oleh teman kantornya yang sudah baik sekali menawarkan mobilnya untuk dipakai pulang setelah aku dan suami kesulitan mencari tiket pesawat/ kereta yang available.

Tiga hari lamanya suamiku di kampung halaman, dan aku hanya bisa melalui hari dengan berdoa semoga kontraksinya muncul setelah suamiku pulang dari Jogja. Di rumah, aku hanya berdua saja dengan anak ketigaku, Archie. Denzel dan Kirei sudah di rumah orang tuaku, menginap disana sejak hari pertama suami tiba di Jogja. Alhamdulillah prosesi pemakaman dsb berjalan lancar di Jogja, aku pun di rumah baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda akan melahirkan sampai akhirnya suamiku pulang ke rumah. Akhirnya semua berkumpul lagi di rumah, dan kali ini, aku dan suami kembali menanti datangnya gelombang cinta tanpa terburu-buru.

Kami menanti.. dan menanti.. 40 minggu.. 41 minggu.. masih belum. Hingga akhirnya, di usia kandungan yang hampir 42 minggu, dan bertepatan dengan hari ulang tahunku..

25 Agustus 2020. Pukul 03:00 dini hari.

Aku terbangun oleh sensasi mulas yang familiar. Awalnya tak ingin berharap banyak, kuanggap ini kontraksi palsu seperti yang sudah sering kurasakan di hari-hari sebelumnya. Aku beranjak dari kasurku, buang air kecil, lalu minum dan makan sedikit camilan sambil duduk-duduk di atas birthball. Biasanya kontraksi palsu akan hilang segera setelah aku bawa beraktivitas ringan seperti ini. Tetapi nyatanya tidak kali ini. Malah kurasakan gelombang mulasnya semakin nyata. Dengan secercah harapan, kuambil handphone-ku dan kugunakan aplikasi contraction timer untuk memantau kontraksinya. Masya Allah! Sudah rutin setiap 5 menitan sekali dan durasi kisaran 1 menit. Feeling-ku kuat kali ini. Inilah harinya.

Pukul 04:40 subuh.

Kubangunkan suamiku, selain untuk persiapan shalat subuh, juga untuk memberitahu bahwa inilah saatnya bersiap untuk persalinan. Awalnya, suamiku pun meragukan benarkah kali ini bukan Braxton hick (kontraksi palsu) seperti sebelum-sebelumnya. Lalu ketika kutunjukkan hasil pantauan contraction timer, yang saat itu sudah setiap 3 menit sekali, akhirnya ia pun yakin dan segera menghubungi orangtuaku untuk kembali kami titipkan bocils selama aku bersalin.

Pukul 05:30 pagi.

Tak lama seusai shalat subuh, orangtuaku datang. Sambil memohon maaf kepada mereka atas salah dan khilafku selama ini, aku memohon doa juga agar semua dilancarkan. Ibuku tertawa kecil, dia bilang kepadaku “Ternyata mau barengan sama tanggal lahir emaknya, yaa.. dulu kamu (maksudnya aku) lahir juga pagi-pagi, jam tujuhan”. Aku hanya bisa ikut tertawa juga atas takdir Allah yang unik terkait tanggal lahir ini. Tertawa kecil, sambil menahan dahsyatnya gelombang cinta yang sudah lumayan intense.

Setelah mencium dan mendoakan satu persatu bocilsku, mereka pun dibawa pergi ke rumah orangtuaku yang tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya beda kecamatan. Tinggallah aku dan suami, berdua saja di rumah, mempersiapkan persalinan unassisted homebirth kami seperti yang sudah kami rencanakan.

Pukul 06:15 pagi.

Walau minimalis, tetapi semua sudah selesai dipersiapkan oleh suamiku. Ruangan, fix. Kasur dan alas perlak, done. Aromaterapi dari tungku essential oil (jasmine, my favorite), done. Sunyi-senyap suara dan pencahayaan, done. Bantal-bantal, handuk-handuk, birthball, done. Makan kurma, minum madu, minum zaitun, done. Posisi lahiran, fix. Posisiku dari setiap kali melahirkan, yang paling nyaman untukku (setelah mencoba berbagai posisi saat kontraksi muncul) adalah berjongkok dengan kemungkinan condong tubuh bersandar ke belakang (dinding). Alhamdulillah suamiku sangat sigap dan setia memantau kondisi dan kebutuhanku selama aku fokus dengan kontraksi yang kurasakan semakin berat dan semakin berat.

Waktu menunjukkan pukul 6 lebih seperempat, sudah ada dorongan untuk mengejan. Tiba-tiba kurasakan bayiku sudah crowning di jalan lahir. Sangat diluar dugaan, sangat cepat jika dibanding persalinanku sebelum-sebelumnya yang memakan waktu paling tidak 8-10 jam sampai crowning dan lahir. Alhamdulillah bi idznillah.

Setelah menyadari bayiku sudah crowning, sudah tidak banyak yang kuingat lagi. Aku hanya berfokus mencoba mengatur nafas dan mempertahankan posisi yang baik agar bayi bisa segera keluar. Ketika suamiku memberitahu bahwa kepalanya sudah terlihat akan segera keluar, aku sebenarnya sudah kewalahan. Usahaku untuk mengatur nafas pun sudah ambyar tak karuan, hanya mengikuti insting saja untuk tetap mendapatkan oksigen yang cukup.

Terasa begitu lama, begitu sulit mengeluarkan bayi ini. Beberapa kali mengejan mengikuti dorongan alami tubuh, masih belum keluar. Sambil merasa sakit, sambil berharap dosa-dosaku diampuni, sambil berdoa. Yang bisa terucap di masa-masa sulit itu hanyalah kalimat tauhid dan sayyidul istighfar. Berharap ampunan-Nya seperti ini membuat diri lebih pasrah dan lebih let go setiap kali kontraksi dan dorongan mengejan datang.

“ayo dek, ini kepalanya sudah mau keluar. Tapi selaput ketubannya masih utuh ini.. kalau nanti born in the caul (lahir masih dalam ketuban utuh), mesti bagaimana ya mecahin ketubannya?”

Deg! Aku sama sekali tidak pernah memikirkan kemungkinan born in the caul sebelumnya. Aku pun tidak tahu bagaimana harus bertindak jika bayiku lahir di dalam ketuban yang masih utuh. Belum sempat aku memikirkan jawaban untuk hal itu, dorongan kuat untuk mengejan datang lagi. Alhamdulillah keluarlah sudah kepala bayiku, dan bersamaan dengan itu, pecahlah ketubannya. Selang beberapa saat, aku mengejan lagi, dan kali ini, bi idznillah mungkin dipermudah oleh air ketuban yang barusan pecah juga, akhirnya bayiku lahir seluruhnya dan ditangkap oleh ayahnya yang sudah menantikannya. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihat..

25 Agustus 2020. Pukul 06:35 pagi hari, Fadeyka lahir.

Setelah bayiku lahir dan langsung Inisiasi Menyusui Dini (IMD) di pelukanku (skin-to-skin), suamiku segera menelepon bidan Neneng. Bidan Neneng adalah bidan sertifikasi AMANI yang dahulu juga menangani administrasi kelahiran anak ketigaku yang persalinannya juga unassisted homebirth (berdua saja dengan suami di rumah). Sama seperti sebelumnya, bidan Neneng mengutus asistennya untuk mengecek kondisiku dan bayiku karena beliau tidak bisa meninggalkan klinik.

Plasenta sudah lahir ketika asisten bidan Neneng sampai di rumah kami. Namun sama pula seperti sebelumnya, masih ada secuil bagian selaput plasenta yang belum terlepas. Setelah ditangani oleh asisten bidan, yaitu dengan tindakan sedikit menggoyang-menarik halus, selaput plasenta tadi akhirnya lepas juga. Asisten bidan lalu mengecek kondisiku terlebih dahulu. Alhamdulillah tanpa robekan, jadi tanpa jahitan. Tidak ada perdarahan, kontraksi rahim bagus. Intinya semua aman. Lalu akupun dibersihkan. Setelah itu giliran bayiku dibersihkan dan digunting tali plasentanya setelah Delayed Cord Clamping (DCC). Belakangan diketahui bahwa beratnya 3,9 kg lebih, hampir 4 kg! Masya Allah.. Tabaarakallah.

Setelah selesai, asisten bidan pun berpamit pulang. Aku dan bayi Fadeyka kecil bisa langsung beristirahat. Sementara suamiku belum bisa tenang jika belum beberes menyelesaikan sisa-sisa perjuangan pagi tadi. Barakallahu fiik, Ayah Agil. Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah yang sangat siap dan sigap, yang berusaha selalu ada dan hadir untuk keluarga.

Kado dari Allah selalu indah, walau awalnya diselimuti musibah.

Inilah kado ulang tahun terindah dari Allah. Sesosok bayi mungil, dengan segala kemudahan proses kehamilan dan kelahirannya. Fadeyka Musa ‘Adiyat. Semoga kelak menjadi anak yang sholih lagi mensholihkan, termasuk golongan orang-orang yang diridhoi Allah. Aamiin.

Tangerang, 10 September 2020

Ramadhiny Susilo

UNASSISTED HOMEBIRTH: KETIKA DUNIA TERASA HANYA MILIK BERDUA

DISCLAIMER:
Kisah persalinan ini dibuat untuk mengabadikan suatu momen penting dalam kehidupan penulis. Tidak ada maksud/ niatan penulis untuk menyerang, menyindir, atau memojokkan kaum ibu yang memilih cara bersalin yang berbeda. Juga, penulis tidak ada niatan untuk menyerukan kepada para ibu yang akan melahirkan untuk melakukan hal yang sama seperti yang penulis lakukan atas pilihan-pilihan persalinannya. Bagaimanapun, segala tindakan pengambilan keputusan harus didasari oleh niat yang baik dan ilmu yang mumpuni, serta disertai kesadaran dan kesiapan untuk menghadapi konsekuensi yang mungkin terjadi.

SEBELUM MEMBACA kisah persalinan saya yang ketiga ini, ada baiknya memulai membaca dari kisah persalinan pertama dan kedua saya terlebih dahulu. Hal ini ditujukan agar pembaca memahami istilah-istilah dan ideologi dalam dunia persalinan yang digunakan dalam tulisan ini, dan agar pembaca mendapatkan gambaran utuh mengapa penulis mengambil keputusan-keputusan yang mungkin dinilai tidak biasa dalam mempersiapkan persalinannya.
Kisah persalinan anak pertama: https://syamileducare.wordpress.com/2016/08/09/my-childbirth-my-adventure/
Kisah persalinan anak kedua: https://syamileducare.wordpress.com/2019/04/17/beauty-and-the-best/

UNASSISTED HOMEBIRTH: KETIKA DUNIA TERASA HANYA MILIK BERDUA
(Kisah Persalinan Anak Ketiga Kami: “Sayf Luth Archibald”)

Saya dan suami memang bercita-cita punya baaanyak anak, tetapi tetap saja kami terkejut dan khawatir juga ketika mengetahui bahwa belum ada setahun melahirkan anak kedua, saya kembali hamil untuk yg ketiga kalinya. Kami merasa khawatir akan banyak hal kurang menyenangkan yang mungkin terjadi kedepannya dikarenakan kehamilan ketiga yang—menurut banyak orang—terlalu cepat ini, tetapi disaat yang sama, kami pun juga merasakan ada secercah rasa bahagia. Sulit sekali menjelaskan perpaduan rasa hati kami saat itu. Kami mempunyai rencana, dan Allah pun mempunyai rencana (untuk kami). Dan Allah adalah sebaik-baik Perencana.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

(QS. Al Baqarah: 216)

Usia kehamilanku sekitar enam minggu saat kami memastikannya ke dokter. Sebelumnya hanya sekedar feeling karena terlambat datang bulan dan hasil positif testpack yang garisnya masih samar-samar.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, kehamilan ketiga ini—dibanding dua kehamilan saya yang sebelumnya—adalah yang saya rasa paling banyak tantangannya sampai dengan akhirnya melahirkan. Dari mulai opname karena morning sickness, sampai dengan nyeri-nyeri badan di trimester akhir yang menghambat aktivitas rutin harian. Tantangan yang paling terasa sehari-hari adalah gonjang-ganjing hormon saat masih mengasuh dua batita yang sedang aktif-aktifnya.

Namun dibalik kesulitan kehamilan yang kuhadapi, Allah datangkan kemudahan dari pintu yang lain. Dalam merencanakan persalinan kali ini, kami tidak perlu lagi bersusahpayah untuk mencari nakes (bidan) yang mendukung gentle birth. Tidak seperti saat kehamilan pertama dan kedua. Kali ini, kami mendapatkan rekomendasi bidan dari teman. Alhamdulillah kliniknya dekat, masih satu kecamatan. Setelah mendatangi bu bidan, berdiskusi, dan lalu akhirnya saya mengajukan birth plan, tidak butuh waktu lama, beliau langsung menyetujui dan mendukung poin-poin dalam birth plan yang saya ajukan tersebut. Satu urusan selesai, insya Allah. Tinggal melanjutkan menjaga asupan nutrisi, olahraga, dan kontrol kehamilan ke rumah sakit.

Ket.Gambar: Birth plan yang saya ajukan kepada bidan dan disetujui.

Meskipun kehamilannya terasa berat bagiku, bi idznillah kondisi janin tidak pernah terganggu. Setiap kali kontrol kehamilan, semua hasilnya baik dan bagus, tiada yang perlu dikhawatirkan. Paling tidak, sampai ketika memasuki bulan kesembilan, selangkah lagi menuju persalinan.

Saat kami mengunjungi dokter untuk kontrol kehamilan di usia kandungan 37 minggu, hasil USG menunjukkan posisi janin sungsang dengan kepala di atas. Saya dan suami kaget, karena sebelum ini semua perkembangan janin bagus, bahkan beberapa minggu sebelumnya kepala janin sudah masuk panggul. Belum reda rasa kaget kami, dokter sudah langsung merencanakan persalinan sesar apabila saat kontrol berikutnya (38 minggu) posisi janin masih sungsang. Kami pun pulang dari rumah sakit dengan rasa khawatir.

Tidak sekali-dua kali kami mendengar kisah persalinan sungsang yang ditempuh dengan cara pervaginam dan sukses, bayi lahir dengan sehat selamat walau yang keluar duluan adalah kakinya, atau anggota tubuhnya yang lain dan bukan kepalanya sebagaimana mestinya. Tetapi tetap saja ketika kehamilan sendiri yang “terancam” dengan posisi sungsang, rasa galau muncul. Mulai ada keragu-raguan haruskah menerima perencanaan persalinan sesar yang diusulkan dokter? mencoba mencari jalan “aman”. Ataukah tetap ikhtiarkan persalinan normal dengan berbagai resikonya?

Kami memutuskan untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk ikhtiar mengembalikan posisi janin agar tidak sungsang. Dengan cara memperlama sujud dan sekalian perbanyak doa saat sujud, dan melakukan terapi panas-dingin dan terapi cahaya yang diajarkan mba Dea. Bismillah.. kuatkan doa, harapan, dan semangat untuk usahakan persalinan normal dengan maksimal.

Seminggu pun berlalu, saat itu usia kehamilanku sudah 38 minggu. Kami memutuskan untuk tidak lagi kembali kontrol ke dokter, for better or worse. Kami melakukan kunjungan kontrol kehamilan kali ini ke bidan. Bidan yang melakukan pengecekan tidak menyampaikan apapun terkait posisi kepala janin. Beliau hanya menyampaikan semua (kondisi) sudah bagus, tinggal menunggu datangnya gelombang cinta. Saya dan suami bisa sedikit bernafas lega, paling tidak bidan kami masih mendukung rencana persalinan kami dan masih mau berjuang bersama kami menghadapi kemungkinan-kemungkinan dalam persalinan nanti. Untuk masalah posisi kepala janin apakah sudah di bawah, biar saja jadi rahasia Allah sampai hari H kelahiran.

Kami menunggu dan menunggu datangnya kontraksi. 39 minggu.. 40 minggu.. akhirnya gelombang cinta si kecil mulai terasa.

Senin, 13 Mei 2019

03:00
Untuk kesekian kalinya saya terbangun oleh rasa mulas jauh yang datang dari dalam rahim. Saya mulai merasakan inilah harinya dan memberitahu suami, serta memintanya untuk mulai mengambil cuti.

05:30
Mucus plug sudah muncul, dan kontraksi sudah mulai teratur setiap 5 menit sekali dan durasi sekitar 1 menit. Selagi duo bocils masih tertidur nyenyak, suami mengajak saya untuk jalan-jalan pagi keliling komplek untuk mempercepat pembukaan. Rencananya sepulang jalan pagi inilah kami akan bersiap berangkat ke klinik bidan.

Belum ada satu putaran mengelilingi taman komplek, langkah kami terhenti karena saya merasakan ada aliran deras air mengalir membasahi pakaian bagian bawah. Air ketuban saya pecah. Rasanya seperti menumpahkan air segayung. Kami langsung bergegas pulang dan sambil saya perbanyak minum air untuk refill air ketuban yang keluar, sambil suami berkonsultasi dengan bidan dan para pengajar kelas prenatal kami terkait apa yang harus dilakukan ketika ketuban sudah pecah.

Sejujurnya, kami pernah mendapat ilmu tentang ini di kelas prenatal, tentang menangani persalinan saat ketuban pecah diawal-awal pembukaan. Bagaimana si ibu harus tetap tenang dan fokus refill air ketuban, tidak terburu-buru mengambil keputusan, tetap menunggu kontraksi intens, etc. Tetapi balik lagi, ketika mengalami sendiri, rasa panik itu ada dan beberapa tips yang sudah dipelajari dahulu pun menguap keluar kepala.. butuh dibantu oleh para pengajarnya untuk mengingatkan dan memasukkan lagi ke kepala.. ahaha.

07:00
Duo bocilsku sudah dijemput dan diungsikan sementara ke rumah orangtuaku. Sejak ketuban pecah, kontraksi pun hilang, tidak ada mulas sama sekali. Kami tidak tahu kapan kontraksi akan datang lagi, sementara air ketuban masih sesekali mengucur kembali. Kontraksi yang hilang ini yang membuat saya mengurungkan niat untuk segera ke klinik atau ke rumah sakit. Saya sangat menghindari induksi, dan lebih memilih mengikuti ritme alami gelombang cinta (baca: kontraksi alami) saja.

08:00
Karena tidak punya pilihan lain selain menanti kontraksi intens di rumah, kami pun akhirnya mempersiapkan persalinan unassisted homebirth. Saya terus menerus mengonsumsi kurma, air madu hangat, dan sesekali sesendok makan minyak zaitun untuk asupan tenaga. Ketika sedang duduk-duduk melenturkan panggul di atas birthball, akhirnya kontraksi muncul kembali. Langsung dengan intensitas yang lumayan berat; setiap 3 menit sekali dan masing-masing kontraksi durasinya hampir 2 menit. Saya sampaikan kepada suami untuk bersiap.

Waktu berlalu terasa begitu lama. Kontraksi sudah terasa sangat berat dan sudah berlangsung selama berjam-jam. Entah sudah bukaan berapa, tetapi serasa belum ada tanda-tanda kemajuan yang berarti. Sesekali air ketuban masih mengucur. Kadang airnya bening, kadang keruh. Suamiku terus mengingatkanku untuk refill perbanyak minum air dan makan kurma untuk membantu mempercepat proses pembukaan.

Saya sangat bersyukur suami saya sangat bisa diandalkan di masa-masa ini. Alhamdulillah. Walaupun pada mulanya ia bersikukuh agar kami tetap pergi ke klinik bidan, tetapi pada akhirnya ia memutuskan untuk mendukung dan menghargai keinginan saya untuk melahirkan dengan tenang di rumah.

Dukungannya tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi ia buktikan juga dengan tindakan nyata. Dia bantu saya mempersiapkan segala hal yang saya butuhkan: air putih, kurma, air madu hangat, minyak-minyak, birthball, handuk-handuk, bantal-bantal, pakaian, dan sebagainya. Seperti tidak berhenti ia mondar-mandir kamar bersalin-kamar mandi-dapur untuk memastikan segala yang kubutuhkan tersedia selalu. Belum lagi disetiap kontraksi muncul dan terasa sangat berat, suami selalu mendampingi di sisi dan memastikan tidak ada tanda-tanda kegawatan seperti perdarahan atau plasenta yang keluar duluan. Masya Allah.. Apa jadinya saya dalam persalinan ini jika tanpa dukungan dan kehadirannya?

14:00
Jujur saja, sangat sedikit momen yang bisa saya ingat di waktu-waktu ini. Rasa sakit kontraksi sudah tidak terlukiskan, dan sudah ada dorongan dari rahim untuk mengejan kuat. Begitu kuat sehingga membuat saya kewalahan mengatur nafas. Jika tidak diingatkan oleh suami untuk tetap bernafas, mungkin saya sudah K.O. duluan karena lemas.
Setiap kali dorongan untuk mengejan berlalu, saya sempatkan bertanya kepada suami apakah kepalanya sudah terlihat. Sampai pada pembukaan lengkap pun kami jelas masih sangat khawatir apakah posisi janin masih sungsang. Kami sangat berharap kepala bayi lah yang muncul pertama. Paling tidak semoga bukan plasentanya yang menjulur duluan. Tetapi nihil. Belum juga terlihat apa-apa.

Seiring waktu berlalu, dorongan mengejan semakin intens dan saya pun merasakan bayi sedang crowning di jalan lahir. Saya yang mengambil posisi duduk bersandar pada bantalan dinding sudah tidak bisa berkata-kata lagi karena menahan rasa sakit dan fokus mengumpulkan tenaga yang rasanya sudah sampai limit terendahnya. Tiba-tiba suami berseru senang: “Dek, ini udah kelihatan, Dek! Tadi Mas kira ini plasenta karena warnanya putih, tapi ternyata itu kepala, Dek! Itu kepala bayi! Rambutnya baru kelihatan hitamnya! Ahaha! (lega)”

Tabaarakallah! Mendengar kabar gembira ini, aku sejenak lupa perihnya kontraksi dan seperti terisi tenaga baru. Bismillah, aku mengejan lagi dengan secercah harapan. Akhirnya kepala bayiku keluar. Butuh waktu lumayan lama rasanya bagiku untuk mengumpulkan tenaga lagi, untuk mengejan membantu mengeluarkan badan bayi. Dengan dorongan terakhir, bayikupun terlahir, ditangkap oleh ayahnya yang sudah menantikannya.

14:15 (Baby Archie lahir)
Alhamdulillah bayi laki-lakiku terlahir dengan selamat. Sekarang saya dan suami menunggu lahirnya plasenta sambil Inisiasi Menyusui Dini (IMD). 30 menit berlalu, tetapi tidak ada tanda-tanda plasenta akan keluar. Suami mulai khawatir dan menelepon bidan. Tetapi bu bidan tidak bisa dihubungi. Suamipun akhirnya memutuskan untuk langsung ke kliniknya saja dan meminta bidannya datang ke rumah. Dia meminta saya untuk banyak makan kurma untuk membantu proses kelahiran plasenta sementara dia pergi ke klinik bidan. Harapannya, ketika bidan sampai di rumah nanti, plasenta sudah lahir sehingga tidak perlu ada tindakan-tindakan lain yang tidak diinginkan.

15:30
Plasenta pun keluar. Tidak lama setelah itu, suami dan asisten bidan sampai di rumah. Ternyata bu bidan sedang mengurusi persalinan ibu lain di klinik, jadi asistennya yang ditugaskan ke rumah saya. Diawali chit-chat ringan, asisten bidan yang sigap langsung mengecek kondisi saya. Tidak ada robekan, tidak perlu dijahit. Alhamdulillah. Dia lalu memeriksa kontraksi rahim dan lalu membersihkan saya. Setelah itu mengurusi tali plasenta bayi yang sedari tadi sudah memutih dan sudah tak berdenyut. Tidak lama setelah bayi dibersihkan dan dipakaikan baju, si asisten bidan pamit untuk kembali ke klinik. Dan kami bisa beristirahat sejenak.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat..
Saya dan suami tidak pernah menyangka, persalinan ketiga saya ini akan menjadi unassisted homebirth dan begitu membekas indah dalam hati. Hanya berdua saja, di tempat yang terjaga privasinya, dan adalah tempat ternyaman dimana kami memulai dan menutup hari di bawah atapnya. Melalui proses persalinan ini, kami jadi banyak menyadari kelemahan kami sebagai makhluk yang hanya bisa berencana dan berusaha, jadi banyak menginsyafi kekhilafan hati, dan banyak belajar berpasrah diri.

Ramadhiny Susilo
Tangerang, 18 Mei 2019

BEAUTY AND THE BEST

BEAUTY AND THE BEST

Birth Story: Kireina Humayra Maudy
Bunda Rara & Ayah Agil

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku-lah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Setiap anak adalah istimewa, spesial dan unik. Bahkan sejak masa kehamilan. Berbekal pengalaman lahiran Denzel (16m) dahulu, saya dan suami mengira proses melobi bidan dan keseluruhan proses kelahiran akan berjalan lancar karena sudah ada pengalaman gentle birth. Adalah kehendak Allah, dalam kehamilan dan proses persalinan kedua ini kami belajar lebih dalam lagi tentang persalinan, langsung dari pengalaman.

Saat mempersiapkan persalinan pertama dahulu, kami hanya berbekal teori dan asupan nutrisi. Tidak ada persiapan yang sifatnya praktek (e.g. senam hamil, pijat perineum, pijat endorfin, relaksasi, rebozo) karena memang kami tidak mendapatkan ilmunya hanya melalui seminar.

Karena itu, kehamilan kali ini saya dan suami ikhtiar mengikuti kelas persiapan melahirkan atau prenatal class amani birth yang diselenggarakan di Pamulang dibawah bimbingan Bu WMS, dengan harapan persalinan kali ini akan lebih menyenangkan dan penuh persiapan. Dan yang paling utama: agar Allah melihat ikhtiar kami dalam mempersiapkan datangnya amanah baru ini dan semoga Allah berkenan melancarkan seluruh prosesnya kelak.

Kehamilan kedua ini mulai terasa berat saat memasuki bulan ke 6. Gambaran kehamilan riil yang dimiliki tentu hanyalah kehamilan pertama kemarin. Sekalipun sering mendengar bahwa setiap kehamilan punya beda cerita, awalnya saya menyangka: “ah..tidak akan jauh berbeda”. Ternyata..
Kehamilan kali ini benar-benar berbeda dengan yang pertama, sampai dengan akhir prosesnya. Dari mulai moodswing hingga rasa nyeri di tulang ekor yang membuat sulit menggerakkan kaki, yangmana saat kehamilan pertama saya tidak mengalaminya. Masya Allah..nikmat. semoga jadi penggugur dosa-dosa.

‘Ala kulli haal, tak terasa usia kehamilan sudah menginjak 8,5 bulan. Waktunya sebar birthplan dan hunting nakes (harusnya dari awal-awal kehamilan, apa daya kesibukan macam pejabat kesiangan 😂. Jangan ditiru). Diantara poin-poin yang masih saya pertahankan dalam birthplan kali ini adalah: (1) tidak ada induksi, infus, dan suntikan oksitosin, (2) tidak digunting, dan tidak dijahit kecuali robekan alaminya terlalu besar, dan (3) IMD (inisiatif menyusui dini) dan DCC (delayed cord-clamping, tali plasenta dibiarkan hingga berhenti berdenyut, baru digunting). Kembali kami menyusuri klinik-klinik praktek bidan sekitar rumah.

Beragam tanggapan yang kami temui. Ada yang dengan tegas menolak semua poin yang saya ajukan, ada yang awalnya menerima tapi lalu ketika didatangi lagi sudah berubah pikiran, ada yang bersedia menerima beberapa poin saja, dsb. Masalahnya, semua poin dalam birthplan yang saya dan suami sepakati adalah penting dan kami tidak bisa bernego untuk menyetujui beberapa dan membiarkan (tidak disetujui) yang lainnya. Ini bukan perkara win-win solution bagi kami. Ini adalah perkara menjaga fitrah dan kondisi optimal si amanah indah ini ketika nanti saatnya ia lahir ke dunia. Bismillah.

Ujian keteguhan dan kesungguhan itu datang lagi. Keliling-keliling kami mencari nakes yang pro normal-natural birth, tetapi tetap belum ada yang berjodoh. Sempat kami lalui perjalanan Sepatan (Tangerang) – Citayam, untuk mengira-ngira apa memungkinkan lahiran di klinik bidan Maya, bidan yang menangani lahiran Denzel dahulu. Namun, jarak tempuh yang jauh dan kondisi jalanan yang buruk di beberapa tempat membuatku mengurungkan niat untuk melahirkan di Citayam.

Sampai di titik nadir, karena begitu lelah fisik dan batin mencari nakes yang tak kunjung dapat, saya meminta izin suami untuk lahiran sendiri saja nanti di rumah. Berbekal pengetahuan yang sudah didapat dari pengalaman kelahiran pertama dan kelas prenatal. Daaannn.. suami tidak mengizinkan. Big NO (yaiyalah.. 🙈). Saya yang masih kekeuh berpikiran untuk lahiran tanpa nakes, tetapi masih menuruti keinginan suami, mencoba mencari nakes lagi. Saya bertanya kepada beberapa bundas yang saya kenal di kelas prenatal, dan mendapat rekomendasi ke Bidan Leni di daerah Cisauk.

Bidan Leni adalah salah satu dari dua pemateri di seminar yang menghantarkan saya mengenal amani birth. Yang saya ingat, dan memang seperti itulah yang saya lihat sampai dengan hari ini, Bidan Leni adalah sosok yang ramah tapi tegas. Enggan bertele-tele dan no sweet lies (kalau ada berita buruk ya disampaikan buruk, tidak diperindah hanya untuk menyenangkan orang lain). Sebelas-duabelas sepertinya dengan kepribadian saya.. Hehe. Jadi saya sedikit banyak sudah dapat gambaran jika harus melahirkan dengan bantuannya.

Kami menghubungi beliau dan membuat janji bertemu di salah satu tempat prakteknya di wilayah Serpong. Kehamilan saya menginjak usia 38 minggu lebih saat itu. Bidan Leni mengecek kandungan saya, alhamdulillah semua fine. Walaupun kepala bayi belum masuk panggul, beliau meyakinkan saya bahwa itu tidak mengapa. Kepala masuk panggul bisa terjadi bersamaan dengan kelahiran. Beliau mengajarkan kepada saya dan suami teknik pijat perineum (psst.. ini salah satu cara menghindari robekan, tentunya selain minta untuk tidak digunting, yaa). Kami pulang dengan jawaban bahwa Bidan Leni bersedia menangani persalinan saya di tempat prakteknya di Cisauk.

Walaupun sudah saling bicara dan sepakat untuk saling bekerjasama lahiran normal-natural dengan Bidan Leni, saya masih menyimpan keraguan. Karena jarak yang juga masih lumayan jauh dan itupun belum termasuk perkiraan jika macet dan jika lama mendapatkan taksi online. Pertimbangan ini membuat saya masih kekeuh dengan rencana akan melahirkan sendirian di rumah dan sudah mempersiapkan sendiri perlengkapan yang dibutuhkan (yang tentu saja jauh dari kebutuhan persalinan yang sebenarnya). Jika Allah tidak menunjukkan jalan-Nya, mungkin saya benar-benar sudah nekat melakukannya.

Tetapi alhamdulillah biidznillah, keraguan saya tentang persalinan ini terjawab. Allah kirimkan orang-orang yang bersedia mengantarkan kami ke Cisauk. Ada beberapa teman suami yang menawarkan bantuan transportasi, tetapi dari kesemuanya, kami memilih meminta bantuan Uban (bukan nama sebenarnya. He) karena rumahnya juga di daerah Cisauk, jadi dia lebih tahu lokasi. Semoga Allah senantiasa merahmati orang-orang yang sudah berniat menolong kami walaupun kami tidak jadi meminta bantuannya.
Fix saya berencana bersalin di Cisauk, dengan Bidan Leni.

Hari demi hari kami menunggu gelombang cinta dari si cantik mungil, tiada juga datang.
39 minggu.. 40 minggu.. masih belum. Karena mulai khawatir, kami melakukan kontrol terakhir ke rumah sakit langganan kami di kota. Alhamdulillah semua perfectly fine, bahkan ketuban masih sangat banyak, dan janin masih belum masuk panggul. Dokternya yang cemas. Beliau langsung meminta saya datang lagi keesokan harinya untuk induksi, menurutnya mulasnya belum muncul bisa jadi karena belum masuk panggul. Tetapi kami sudah mendapatkan jawaban bahwa kondisi baik-baik saja, jadi biarlah kami menunggu saja ketentuan dari Allah.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya” (QS. Al Hajj: 5)

Tanggal 27 September 2017. 15:00 wib
Akhirnya tanda-tandanya datang. Mucus plug sudah muncul walaupun belum ada mulas. Suami dan temannya pun siap siaga, kalau-kalau harus mendadak izin dari kantor dan bergegas ke Cisauk.

Malam berlalu, masih belum ada tanda-tanda gelombang cinta. Akhirnya kami istirahatkan diri dan berharap besok sudah ada kemajuan.

Tanggal 28 September 2017. 02:00 wib
Ada yang membuatku tidak bisa tidur lagi setelah terbangun jam 2 dini hari.. ada rasa mulas yang familiar. Gelombang cinta si mungil!! Walaupun masih samar-samar sekali rasanya. Mungkin braxton hick. Kulakukan segala rutinitas yang bisa kulakukan.

06:00 wib. Sudah mulai teratur pola gelombang cintanya. Sudah setiap 10 menit, durasi kurang dari 30 detik. Bismillah. Inilah harinya, insya Allah. Begitulah yang kurasakan. Kulihat suami sudah akan siap-siap berangkat kerja. Kuminta dia ambil off karena hari ini, saat ini juga, kami harus sudah berangkat ke Cisauk. Lebih baik terlalu cepat datang (di klinik) daripada terlambat. Suamipun segera menghubungi Uban. Memintanya sebisa mungkin segera datang setelah urusan perizinannya di kantor selesai. Akupun menghubungi ibuku di rumah yang tidak jauh dari rumah kami, mengabarkan apa yang kurasakan dan memintanya membawa anak pertamaku Denzel ke rumah (mendekati hari H lahiran, Denzel kutitipkan di rumah ibu). Aku ingin melihat Denzel, memeluknya dan menciumnya, mendoakannya sebelum aku berangkat ke Cisauk. Siapa yang tahu kan, barangkali itu saat terakhir aku melihatnya?

08:00 wib. Kami sudah dalam perjalanan menuju Cisauk. Alhamdulillah lancar dan tidak pakai nyasar (thanks, Uban!).
10:00 wib. Kami sudah sampai di tempat bersalin dan Bidan Leni melakukan vt. Pembukaan 1. Masya Allah.. masih lama, pikirku.
Sejenak saya dan suami rehat di klinik. Bidan Leni pun memberikan saran dan herbal yang diperlukan untuk mempercepat pembukaan.
Sambil menunggu gelombang cinta yang intens, saya berjalan-jalan mengitari klinik.

14:00 wib. Bidan Leni yang melihat saya mondar-mandir disitu-situ saja (kasihan mungkin ya, seperti setrikaan😂) akhirnya menyampaikan ingin mengajak saya dan suami berjalan-jalan di mall. Hanya untuk berjalan, dalam arti yang sebenarnya. Sudah jadi rahasia umum ya kalau wanita jalan-jalan di pusat perbelanjaan itu bisa lupa waktu dan lupa pembukaan #eh🙈.

15:30 wib.
Namun belum sempat kami ke mall, mulas yang saya rasakan sudah mulai intens dan berat. Tidak terbayang kalau harus berpucat-pucat ria menahan sakitnya kontraksi di mall. Akhirnya kami urungkan niat, dan tetap berada di klinik sampai akhirnya sakitnya kontraksi benar-benar membuatku tak kuat lagi berjalan. Bidan Leni mengajak kami ke ruang bersalin dan memintaku mengambil posisi. Suamiku menemani disamping ranjang dan terus menyemangatiku. Dua jam berikutnya, menjadi jam-jam yang penuh perjuangan dan paling lama kurasakan dalam hidupku.

Aku sudah tidak lagi melihat jam. Rasanya waktu berlalu begitu lambat. Rasa sakit kontraksi hampir tidak memberiku jeda untuk sekedar bernafas nyaman. Teknik-teknik pernafasan yang telah dipelajari buyar sudah. Yang tersisa hanya kesadaran bahwa aku harus melahirkan dalam posisi jongkok untuk mempersingkat jalan lahir dan menghindari robekan, dan bahwa aku harus menggunakan pernafasan perut. Ditengah sakitnya kontraksi yang sesekali membuatku menggigil, Bidan Leni melakukan vt lagi. Pembukaan 6. Aku hampir putus asa. Rasa sakitnya sudah seperti pembukaan 8 (menurutku), tetapi ternyata baru pembukaan 6. Aku menangis. Kulihat suamiku pun iba melihatku kesakitan. Menatapnya seperti itu, aku hanya bisa merasakan dalam hati: Alhamdulillah, betapa beruntungnya aku, suamiku setia mendampingi disetiap proses persalinanku. Ditengah rasa sakit kontraksi, keberadaannya di sisiku untuk terus menyemangati dan menggenggam erat tanganku sangat membuatku terharu. Ia pun rela tangannya sesekali (atau beribu kali?) kucengkeram kuat ketika menahan sakitnya kontraksi. Saat itu aku sangat sadar banyak sekali kesalahanku kepadanya. Aku meminta maaf pada suamiku atas segala kekuranganku sebagai istri selama ini. Aku melupakan sejenak bayang-bayang pembukaan yang terasa lama dan mencoba mensyukuri apa yang didepan mata. Disetiap muncul rasa sakit, aku memohon kepada Allah, benar-benar memohon agar rasa sakit ini menjadi penggugur dosa. Dengan menyadari bahwa diri ini penuh dosa, berharap seperti itu memberikan rasa ringan tersendiri.

Tak lama dari itu, dorongan kuat untuk mengejan muncul. Aku baru sadar Bidan Leni tidak ada di ruangan. Aku meminta suamiku memanggilnya karena sungguh aku merasa bayiku sudah akan lahir. Dorongan kuat untuk mengejan datang silih berganti. Bidan Leni membimbingku untuk terus mengatur nafas dan menggunakan pernafasan perut. Setiap aku mengejan, tenaga dan nafasku serasa terkuras. Beberapa kali mengejan, tenagaku hampir habis. Terakhir yang kuingat, rasanya tubuh bagian bawahku seperti panas, seperti akan terkoyak-koyak atau hancur. Aku ingat sensasi rasa terbakar ini seperti saat Denzel akan lahir. Aku tahu bayiku ini pun akan segera launching. Aku bersyukur ini akan segera berakhir dan mencoba menerima rasa sakitnya. Menerima saja, percaya pada Allah. Percaya bahwa semua akan berlalu, rasa sakitnya hanya sementara.

28 September 2017. 17:36 wib
Dan alhamdulillah, Kirei pun lahir. Seorang bayi perempuan cantik, pipi dan bibirnya merah, dengan berat 3,35 kg dan panjang 50cm, kini dalam pelukanku. Suamiku yang menggunting tali plasentanya setelah proses IMD dan DCC selesai. Adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri.
Proses kala 3 ku (kelahiran plasenta) memang memakan waktu lebih lama karena ternyata ada sedikit selaput yang sulit lepas. Tetapi akhirnya selesai juga. Alhamdulillah, atas izin Allah, tidak ada jahitan karena tidak sobek, hanya lecet sedikit saja kata Bidan Leni.

Alhamdulillahil ladzi bini’matihi tatimush shalihat..

Sungguh, selalu Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang memberikan kado yang indah. Walaupun awalnya dibungkus oleh segala jenis kesulitan, tetapi percayalah, akan selalu ada hikmah. Bagi yang mau mengambil pelajaran.

Tangerang, 30 Oktober 2017
Ramadhiny Susilo (Bundanya Denzel & Kirei)

LO, GUE, END!! (KISAH NYATA HIJRAH KAMI)

Kisah Bunda Rara dan Ayah Agil terjerat riba, dan lepas darinya

 

Bismillahirrahmanirrahim..

DISCLAIMER

Kisah ini adalah kisah nyata pengalaman hidup kami, kami abadikan dalam sebuah bentuk tulisan dan kami sebarkan murni karena kami ingin agar sebanyak-banyak orang mengambil pelajaran darinya, dan jangan sampai orang lain mengalami kesulitan sebagaimana yang kami alami.

 

AWAL TERJERAT RIBA KPR BANK (yang konon katanya syariah)

 

“Kalau harus pindahan, aku maunya pindah ke RUMAH SENDIRI! Gak mau ngontrak lagi! Gak enak!”

 

Begitu rengekku kepada suami sekitar 3 tahun lalu, pertengahan 2015, saat kami masih mengontrak rumah. Pengalaman mengontrak yang tidak menyenangkan karena ada saja masalah dengan si pemilik rumah membuat saya saat itu mantap tidak mau mengontrak lagi. Saya minta suami membeli rumah saja kali ini, walau harus dengan KPR karena tabungan memang belum cukup untuk beli cash. Saat itu, saya sudah dinasihati, bahwa kalau mau KPR, banknya yang syariah saja, jangan yang konven karena riba. Saya telan mentah-mentah nasihat itu karena yang menasihati adalah orang yang saya anggap paham syari’at. Ditambah lagi panasnya kompor-komporan:

 

“Kalau gak gitu (KPR), kapan mau punya rumah?”

 

“Ini memang sudah darurat butuh, asal banknya syariah insya Allah gak riba.”

(Darurat butuh atau darurat nafsu??? Hehe. Kayak Allah gak tahu aja.. kalau memang benar darurat, masa’ dikasih jalannya dengan ngeRIBA?)

 

Akhirnya saya dan suami mencari-cari perumahan baru. Sebenarnya, ada saja cara Allah menahan kami terjerumus riba. Ketika menemukan yang pas, kami mau bayar DP, semua ATM yang kami temui sedang bermasalah. Sedangkan bank sudah tutup. Tetep ngotot mau KPR, tunggu besok paginya. Sudah DP, tahunya Allah tunjukkan borok perumahannya, tidak jadi beli lah, hangus DP biarin aja.

 

Akhirnya karena masih semangat 45 mau punya rumah baru, cari lagiii yang lain. Alhamdulillah (atau innalillah?) dapet rumah yang cocok, walaupun rumah secondhand (bukan perumahan baru). Langsung bat bit bet ajukan KPR, DP dengan pemilik rumah, urus ini itu, akhirnya hari akad tiba. Sebenarnya Allah memberikan lagi petunjuk-Nya saat akad ini. Ada kesepakatan dalam akad tersebut yang berbeda dengan iming-iming marketing dan costumer service-nya. Dan ketika saya tanyakan pun kepada pihak banknya, mereka menjawab dengan tidak jelas dan saya menangkap kesan dibuat-buat. Saya sudah ragu dan ingin membatalkan. Tetapi saya tidak enak karena banyak pihak sudah hadir disana dan masih terbawa nafsu ingin punya rumah sendiri. Jadi peringatan dari-Nya saya abaikan.. akad pun selesai.

 

Tidak pernah saya menduga sebelumnya, abainya saya akan petunjuk Allah ini, adalah awal dari malapetaka yang ngeRIBAnget!! #nangisnyesel

 

HADIAH DI DUNIA KARENA BERANI BERMAIN RIBA (yang akhirat pasti lebih ngeriii..)

 

Setelah akad riba selesai, entah kenapa hati ini tidak pernah tenang. Bawaannya ada waswas, cemas berlebihan, sensitif, arogan.. senggol bacok lah pokoknya. Gampang curiga dengan orang, mudah tersinggung.. mungkin intinya gampang dipengaruhi setan kali ya..

Pun dengan pasangan, ada masalah kecil saja bisa runyam. Apalagi jika ada masalah keuangan, bisa perang. Padahal saat mengontrak dulu, ada masalah berat pun masih bisa cepat adem dan menemukan solusi tanpa perang sengit.

 

Gaji tidak pernah cukup, padahal tergolong besar dan belum jika ada bonusan. Tetapi blass saja numpang lewat doang tanpa bekas. Suami mempercayakan gajinya dikelola oleh saya dan Allah tahu saya bukanlah orang yang suka hambur-hambur untuk gaya hidup (semoga Allah menjaga saya tetap seperti ini sampai akhir hayat). Selalu saja ada pengeluaran yang tak terduga yang darurat. Misalnya motor rusak apanya lah harus diganti, aki habis, tower rumah pecah harus beli baru, bikin saluran air baru karena mampet, dan pengeluaran tiba-tiba lainnya yang menguras dompet dan tabungan.

Dalam kondisi keuangan menghimpit, bahkan akhirnya saya dan suami harus merelakan untuk menjual barang-barang yang kami miliki. Saya harus merelakan salah satu mas kawin dijual untuk bisa tetap makan tanpa berhutang. Suami sampai jual jam tangan kesayangan dan motornya untuk bisa tetap mencicil KPR dan bisa bertahan hidup.

 

Sudah seperti itupun, tetap saja setiap tengah atau akhir bulan sebelum gajian uang sudah habis dan akhirnya hutang terus berkesinambungan. Harga diri tergadai, dijauhi teman, dipandang hina oleh saudara, dicurigai mertua (ups!), diomongin dan difitnah tetangga. Sampai rasanya ingin berdendang: “Akuu~ tak sanggup laagii~” eh tapi daripada berdendang, mending berdiri shalat, minta ampun sama Allah deh..

 

Kualitas dan kuantitas ibadah perlahan menurun. Saat shalat yg dipikirin bukan cara dapat ridho Allah, malahan mikirin cara dapat duit lebih banyak biar bisa bayar angsuran KPR, hutang-hutang, dan menstabilkan keuangan. Udah lupa yang mana Tuhan, yang mana berhala (uang). Astaghfirullah.. #mewek

 

Orang yang hanya mendengar dampak riba ini sekilas dengan telinga (tanpa melibatkan hati dan iman) paling hanya berkomentar:

 

“Maklum lah pasangan muda.. berantem-berantem sedikit mah wajarr”

“Maklum lah masih belum jago ngatur keuangan keluarga” (mau jago kayak apa juga, kalau Allah yang perangi ya pasti jatoh bandarr!)

“Namanya juga iman naik turun wajar aja kalau ibadahnya sesekali kendor” (What the? Kalau mati pas lagi kendor, bisa gak kita nego sama Allah bilang kalo itu mah wajar?)

“Namanya juga hidup, semua orang juga pasti punya hutang.”

“Namanya juga ujian.. bla bla bla”

 

Walau belum sadar kalau sedang terjerat riba, tetapi saya dalam hati yakin, kesulitan-kesulitan ini bukan semata ujian.. pasti ada hal yang salah yang telah saya lakukan..dan benar saja.

 

“… the ngeyelers! Berkali-kali dikasih azab peringatan tetep sok pede itu ujian, hehe.. ujian itu gak beruntun, bro! Ujian Akhir Sekolah juga cuma tiga hari, kalau beruntun terus-menerus itu azab yang tak disadari…” (Dikutip dari buku “Berani Jadi Taubaters!” Karya Saptuari, hal.108)

 

SAHABATAN YANG NGERI BANGET: RIBA, MAYSIR, GHARAR, DKK

 

Sampai pada titik keterpurukan diatas, saya dan suami belum sadar bahwa kami terjerat riba (karena orang-orang disekeliling kami selalu memberitahu bahwa KPR bank syariah tidak riba), dan kami tidak mengerti mengapa ujian hidup seperti datang menghantam bertubi-tubi, membuat kami tertekan dan jatuh terperosok. Kami hanya terus bertanya-tanya “ada apa ini yaa Allah? Kesalahan apa yang membuat hidup kok rasanya begini amat susahnya?”

 

Tidak lama setelah kami merasa ada yang salah, postingan Mas Saptuari tentang riba dan kisah seseorang yang berhasil lepas dari jeratan riba muncul di timeline facebook saya. Pas! Kisah kesulitan-kesulitan hidupnya persis seperti permasalahan yang sedang saya alami dan rasakan. Ternyata.. ada riba diantara kita. (Ciyeee.. baru tertohok makjlebb nih yee..)

 

Dalam hati, saya mulai ketar-ketir, adakah ini semua karena riba? Dan benarkah bahwa saya dan suami sudah terjerumus ke dalamnya?? Mau sekeras apapun saya mengelak, hati kecil saya meng-iya-kan dan kacamata iman saya membenarkan bahwa saya sudah bermain-main dengan riba, makanya saya rasakan banyak kesulitan yang tidak masuk akal. Kesulitan yang, kalau pakai logika duniawi, pakai hitung-hitungan diatas kertas, tak mungkinlah gaji besar bisa jadi miskin dan banyak hutangan begini.

 

Ke-kepo-an saya pada postingan-postingan makjlebnya Mas Saptuari mengantarkan saya kepada Komunitas Tanpa Riba (KTR), sebuah grup WA yang masya Allah berisikan saudara-saudari yang juga sedang merintis jalan hijrah dan saling berbagi ilmu dan semangat hijrah riba.

Melalui perantara KTR, saya dan suami akhirnya tahu beberapa hal soal riba dan kawan-kawannya yang ngeri banget juga: maysir, gharar, akad dzalim bathil, etc.

 

Sedikit banyak jadi tahu tentang hukum KPR, leasing kendaraan, kartu kredit, MLM, arisan yang jumlah tariknya berbeda dengan jumlah setornya, koperasi simpan pinjam, asuransi, dropship bathil, investasi, etc etc terkait bisnis dan muamalah zaman now yang sungguh mencengangkan mayoritasnya ternyata masih mengandung unsur riba dan/ atau kawan-kawannya itu.

 

Kami merenung dalam.

 

Ternyata sebelum terjerumus riba KPR, kami sudah bersentuhan dengan sumber-sumber harta haram lainnya. Kami mulai berbenah lagi. Kami berhenti mempraktekkan dropship dan MLM, menutup semua asuransi yang bisa kami tutup, keluar dari keanggotaan koperasi simpan pinjam, menutup arisan yang menggunakan akad bathil, dan menghindari segala bentuk bisnis yang kami khawatirkan/ tidak paham akadnya apakah syar’i atau tidak.

 

Kami ingin agar usaha kami diridhoi Allah. Agar harta kami berkah, agar yang sedikit pun bisa mencukupi. Kami tidak mau berteman dengan riba dan kawan-kawannya lagi. Kami tidak mau berhutang lagi. Konsekuensinya, selain digenjot sedekah (yang merupakan amalan melawan riba. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah) dan sambil suami tetap menjadi karyawan di perusahaan penerbangan, kami mencari sumber pendapatan lain dengan berdagang, yang barang dagangannya adalah hasil dari tangan kami sendiri. Suami berupaya menambah penghasilan dari hasil jualan bakmi di kantor dan menjadi terapis totok punggung.

 

“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan.” (Diriwayatkan oleh Ibrahim al-Harbi dari Nu’aim bin ‘Abdirrahman)

 

“Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR Ahmad)

 

Alhamdulillah setelah menyadari dan berniat taubat dari riba dan kawan-kawannya, hati lebih adem.. nasihat lebih mudah masuk karena tidak lagi merasa tinggi dan membuang jauh-jauh arogansi diri.. dengan pasangan lebih akur dan kokoh mantap berbuat hal-hal baik. Kondisi keuangan melesat naik, tidak melulu setiap akhir bulan berhutang kepada teman dan keluarga. Jika masih harus berhutang pun, jumlahnya tidak sebesar sebelum-sebelumnya.

 

Kalau orang lain prestasi keuangannya adalah saat bisa beli ini itu, bisa jalan-jalan kesana kemari,,prestasi keuangan kami cukup saat akhir bulan bisa bertahan tanpa berhutang lagi. Bahagia sekali rasanya apabila sampai dengan gajian berikutnya kami bisa lalui tanpa berhutang kepada teman-teman atau karib-kerabat. Semoga Allah berkahi dan beri kelimpahan harta kepada orang-orang yang sudah membantu kami disaat-saat sulit.

 

GENDERANG DITABUH, PERANG PUN DIMULAI

 

“Pemakan riba, penyetor riba, penulis transaksi riba dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba, semuanya sama dalam dosa.” (HR Muslim no.1598)

 

Di penghujung 2016, saya dan suami ber-azzam (bertekad kuat) berhenti melakukan riba. Akhirnya kami putuskan untuk menjual rumah. Amputasi riba. Allah mudahkan jalan bagi kami untuk tidak lagi menjadi penyetor riba, Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Kredit kami macet cet. Berbulan-bulan kami tidak bisa lagi mencicil ke bank. Surat peringatan dan orang bank sudah silih berganti berdatangan ke rumah. Kami berniat akan melakukan pelunasan dari hasil jual rumah ini. Kami tahu konsekuensinya bahwa bank tidak akan membiarkan cicilan kami mandek terus dan semua berlalu begitu saja tanpa “perlawanan”.

 

Intimidasi pihak bank pun mulai kami rasakan. Dari mulai yang ringan didatangi dan diberi SPK 1-3 dengan ancaman lelang, didatangi dan diancam akan disita kendaraan dan barang-barang berharga di rumah, didatangi dan diancam akan beberkan kredit macet kepada tetangga se-RT, diancam akan dipasang spanduk dalam pengawasan bank, diancam akan lelang dan jumlah hasil lelangnya bisa jadi belum menutup hutang ke bank (aset hilang, hutang tetap berbilang), sampai orang pelelangannya sendiri datang ke rumah dan akhirnya memasang spanduk lelang di pintu pagar. Menghadapi intimidasi ini sungguh tidak mudah, hati remuk-redam ketar-ketir dibuatnya, tangan jadi gemetar membayangkan hal-hal buruk yang bisa jadi menimpa kami. Terlebih ketika saya menghadapi intimidasi-intimidasi tersebut saat hamil anak kedua dan selalu dalam kondisi sendirian di rumah (suami saya sedang kerja).

 

Sungguh, jika bukan karena Allah yang menguatkan, mungkin dalam perang ini, kami sudah kibar bendera putih dari sejak intimidasi awal. Memilih untuk sudah pasrah saja bayari itu angsuran riba sesuai maunya bank, daripada malu dan rugi bandar di dunia?

Alhamdulillah Allah kuatkan hati kami, membimbing kami untuk tetap bertahan di jalan hijrah. Satu hal yang juga menjadi perantara Allah menguatkan kami untuk hijrah: saudara-saudari kami di grup KTR. Mereka membantu kami memahami seluk beluk aturan perbankan, dan melakukan pendampingan spiritual kepada kami disaat jiwa dan hati kami jatuh bangun diintimidasi. Jika Allah tidak pertemukan kami dengan mereka, apalah jadinya kami menjalani semua sendirian. Jazaakumullah khoyran katsiran.

 

Kurang lebih satu tahun kami upayakan menjual rumah untuk pelunasan, sejak awal 2017 sampai dengan awal 2018 ini. Banyak yang datang, berminat, tetapi mayoritas yang datang menginginkan pembayaran dengan KPR (ooohh, Noooo!!), atau overkredit. Dalam kondisi terdesak, kami sering tergoda untuk membolehkan pembeli membeli dengan bayar KPR atau overkredit. Kami pun ingin cepat-cepat lepas dari jeratan riba ini. Tetapi Alhamdulillah tidak sampai terjadi. Adakalanya Allah yang menghalangi.. si pembeli tiba-tiba tidak jadi beli.. adakalanya Allah yang sadarkan kami: untuk apa kamu hijrah riba, tetapi kamu cemplungin orang lain kedalam riba dengan sadar? Kamu sama saja jadi saksi transaksi ribanya dia juga dong nanti? Astaghfirullah.. #meweklagi

 

Harus bersabar menunggu jalan keluar yang baik dari Allah..

Harus bersabar menunggu pembeli yang bisa membeli cash..

 

Disaat saya dan suami sudah pasrah puolll, ibadah sudah tidak lagi mikirin duit dan hutangan, mikirin bagaimana caranya agar Allah ridho saja.. mikirin bagaimana caranya agar Allah ampuni saja.. Alhamdulillah wa syukurillah, Allah datangkan jalan rezeki yang tidak diduga-duga. Min haitsu la yahtasib! Datanglah pembeli, melihat-lihat rumah kami, berminat. Malamnya nego harga, langsung deal. Esokannya saya dan suami urus ke bank minta pelunasan hutang pokoknya saja tanpa bunga. Walau agak sulit dan alot proses nego dengan pihak bank, Alhamdulillah bi idznillah disetujui untuk pelunasan pokok tanpa bunga. Terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu negosiasi kami dengan pihak bank, semoga Allah berkahi usaha dan hartanya. Begitu disetujui, keesokan harinya, kami dan pembeli rumah kami mendatangi bank untuk pelunasan.

 

Hari itu adalah seberkah-berkah hari diantara seminggu. Hari JUM’AT di penghujung Jumadil Akhir, sekitar jam 11 siang sebelum shalat jum’at, kami telah resmi melunasi hutang pokok kami di bank. Pembeli rumah kami yang membawa uangnya dan menjadi saksi kami lepas dari jeratan riba ini. Malamnya ba’da isya, sertifikat rumah kami diserahkan oleh pihak bank. Dan kami secara resmi terlepas dari urusan KPR dengan bank, dan tidak mau lagi berurusan dengannya beserta riba dan kawan-kawannya. Semoga Allah menjaga kami tetap istiqomah menjauhi semua larangan-Nya..

 

“Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia.” (HR Ibnu Majah)

 

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

 

Masya Allah.. plooooonggg rasanya sampai kayak terbang-terbang tidak napak tanah (emangnya kunti? Hehe)

Ibadah masya Allah nikmat.. berasa sekali Allah itu dekaaaaaatttt.. Alhamdulillah.

Sungguh bagi Allah, tidak ada yang tidak mungkin. Semua bisa dikabulkan, apalagi dalam rangka ketaatan..

 

RUGI DI MATA MANUSIA, BERUNTUNG DI MATA ALLAH (Insya Allah)

 

Mungkin di mata manusia, kami adalah orang yang merugi..

Rumah dilepas jual, dibawah harga saat membeli..

Mungkin di mata manusia, kami adalah orang yang merugi..

Dari yang tadinya punya rumah, harus ngontrak lagi..

 

Namun penilaian manusia apalah arti..

Ketika kedekatan dengan Allah melebihi segala isi Bumi..

Karena “apa kata dunia?” , mohon diingat,

tidak akan pernah seabadi: “apa kata akhirat?”

 

Tangerang, 21 Maret 2018

Ramadhiny Susilo (Rara)

MY CHILDBIRTH, MY ADVENTURE

Perjalanan proses persalinanku semakin menguatkan keyakinanku bahwa segala kejadian dalam hidup ini bukanlah sebuah kebetulan, mereka adalah rentetan pelajaran kehidupan yang tersusun dan teragendakan dengan apik. Ibarat sebuah kado yang terbungkus oleh berlapis-lapis kertas yang kita harus bersabar dan berbaik sangka membukanya hingga nampaklah isinya, begitu pula kejadian-kejadian kehidupan kita. Bersabar, terus ikhtiar dan berbaik sangka, hingga Allah tampakkan hikmah dan nikmatNya.

Di fase-fase awal kehamilanku, aku dan suami awam sekali masalah persalinan. Yang ada di benak kami adalah aku akan melahirkan di rumah sakit, ditangani oleh dokter spesialis kandungan, dan selama hasil USG tidak menunjukkan masalah maka aku akan melahirkan dengan normal dan semua akan baik-baik saja. Aku dan suami hendak mempercayakan sepenuhnya proses persalinan kepada nakes yang kami anggap kompeten dan berpengalaman. Kami tidak merasa perlu mencaritahu lebih dalam seperti apa dan bagaimanakah persalinan itu. Yang kutahu, aku hanya perlu menjaga asupan gizi, cukup olahraga, cukup istirahat, dan hanya berbaring mengejan saat nanti melahirkan.

Alhamdulillah, sungguh Allah Maha Penyayang lagi Maha Memberi Petunjuk, kelalaian kami dalam hal mempersiapkan proses persalinan tidak berlarut-larut. Usia kandunganku 30 minggu ketika aku menemukan informasi adanya seminar Gentle Birth (AMANI Birth) di kotaku, dekat dengan tempat tinggalku. Allah percikkan rasa penasaranku. Aku mulai memikirkan bagaimanakah melahirkan itu? Adakah hal lain yang bisa kulakukan atau kupersiapkan selain mengejan ketika aku hendak melahirkan? Dan seterusnya, dan seterusnya. Kusampaikan hal ini kepada suami dan meminta izinnya agar aku diperbolehkan mengikuti seminar tersebut. Suamiku tidak hanya mengizinkan, dia juga mendukung dan turut menemaniku selama seminar tersebut berlangsung. Rupanya dia pun ingin menjadi seorang suami dan seorang ayah yang berbekal ilmu dan penuh persiapan. Dukungannya dari sejak awal aku mengenal AMANI Birth ini hingga akhirnya memutuskan homebirth amat sangat berarti bagiku.

‘Ala kulli hal, dari seminar tersebut aku belajar banyak hal terkait kehamilan dan proses persalinan. Banyak sekali sehingga tidak mungkin kujabarkan dalam tulisan ini satu-persatu. Intinya, melahirkan itu adalah kodrat setiap wanita, yang sudah Allah persiapkan dan atur sedemikian rupa sehingga persalinan itu adalah hal yang natural. Alamiah. Sudah dengan caraNya, sudah dengan persiapan dariNya. Intinya, jika tidak ada “kelainan” pada organ tubuh kita atau pada si janin, proses persalinan bisa berjalan natural tanpa ada intervensi medis. Percaya pada Allah, percaya bahwa Ia persiapkan makhlukNya sesuai dengan kodratnya. Adanya intervensi medis yang tidak perlu—dalam banyak kasus yang dijabarkan dalam seminar tersebut—justru mendatangkan banyak masalah. Baik masalah untuk si ibu, maupun untuk si janin. Atau untuk keduanya.

Sayangnya, mayoritas nakes masih menerapkan intervensi medis yang sebenarnya tidak perlu dalam proses persalinan normal. Rasa khawatirku muncul. Saat itu aku dan suami sudah memilih rumah sakit dan dokter kandungan, sebut saja dokter Anna (bukan nama sebenarnya), untuk menangani persalinanku. Jujur saja, aku dan suami sangat menyukai dokter Anna karena dia sangat ramah, detil, dan perhatian. Tipikal dokter fairy godmother, lah. Kami masih memupuk harapan dokter Anna tidak akan melakukan intervensi medis yang akan membahayakanku dan bayiku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Atau paling tidak, kami berharap ia bisa menerima bahwa kami tidak mau ada tindakan-tindakan medis tertentu ketika nanti aku melahirkan dengan bantuannya.
Aku merasa bahwa tidak akan mudah bernegosiasi urusan tindakan-tindakan medis persalinan dengan seorang dokter kandungan yang sudah lama berkiprah di rumah sakit besar. Terlebih aku tidak memiliki background pendidikan dibidang kedokteran sama sekali. Aku harus membekali diri dengan ilmu yang cukup terlebih dahulu, baru aku bisa percaya diri menyampaikan rencana persalinanku kepada dokter Anna. Aku butuh seseorang yang berpengalaman, yang bisa memberiku ilmu tentang persalinan yang kubutuhkan, dan yang bisa membantuku “berbicara” kepada dokter Anna.

Usia kandunganku 32 minggu ketika aku dan suami memutuskan untuk meminta bantuan mba Dea Revania, seorang doula AMANI yang juga seorang Childbirth Educator. Aku mengetahui tentang mba Dea ketika beliau menjadi salah satu pembicara dalam seminar Gentle Birth yang aku hadiri. Beliau sangat profesional dan fast-respond. Setiap pertanyaan kami tentang proses persalinan dijawab olehnya dengan jelas dan mencerahkan. Tidak hanya itu, beliau juga sangat ramah dan hangat. Berbicara dan berkonsultasi padanya serasa curhat pada kakak sendiri. Beliau menyarankan agar aku membuat Birth Plan yang nanti bisa diajukan kepada dokter Anna, dan dari Birth Plan tersebut nantinya akan diketahui bagaimana sikap dokter Anna terhadap keinginanku melahirkan secara natural.


.

Gambar 1.1. Birth Plan yang hendak kuajukan ke Dokter Anna

 

 

Usia kandunganku 36 minggu. Hari itu adalah hari terakhirku cek kandungan ke dokter Anna sebelum melahirkan. Birth Plan pun sudah siap disodorkan. Alhamdulillah hasil USG semuanya baik. Kondisiku dan janinku baik, berat dan air ketuban semuanya baik. Dokter Anna bilang aku bisa melahirkan secara normal. Bismillah, akupun memberikan hasil print-out Birth Plan-ku kepada dokter Anna diakhir penjelasannya terkait hasil USGku. Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui apakah ia setuju atau menolak. Dari awal dia membaca poin pertama Birth Plan-ku tentang penolakanku untuk diinduksi, dia sudah mengatakan “ini gak mungkin, bu“. Dia lalu membaca cepat semua poin-poin Birth Plan-ku dan banyak sekali yang ia tentang. Harapanku untuk bisa melahirkan di rumah sakit sirna. Sebelum rutin cek kandungan ke dokter Anna, aku sudah mencoba ke dokter-dokter lain di berbagai rumah sakit. Dan dari kesemuanya, aku merasa nyaman dan cocok hanya dengan dokter Anna. Ketika ia menolak Birth Plan-ku dengan kalimat pamungkas “yang ibu minta itu terlalu over, bu.. berlebihan“, maka seketika itu pula rumah sakit tidak menjadi opsiku untuk melahirkan. Dokter Anna lalu memberiku catatan kecil terkait SOP persalinan dari WHO dan sebagainya. Ia memintaku untuk mencaritahu dan mempelajari mengapa intervensi medis itu perlu menurut mayoritas nakes. Yang menurutnya harus kupelajari, sudah dikupas tuntas dalam seminar Gentle Birth dan konsultasiku dengan mba Dea. Tetapi aku mencoba memahami bahwa penolakannya itu mungkin karena pendidikan kedokterannya dan peraturannya memang seperti itu di rumah sakit, harus ada intervensi medis dalam proses persalinan demi mencegah “hal-hal yang tidak diinginkan”. Katanya. Allahu a’lam.

Gambar 1.2. Catatan yang diberikan oleh Dokter Anna untuk kupelajari

 

 

Aku sadar bahwa waktu yang kumiliki tidaklah banyak untuk merencanakan persalinanku dari awal lagi. Rencana melahirkan di rumah sakit gagal, kami lanjut mencoba ke klinik-klinik bidan dekat rumah. Aku dan suami mengumpulkan rekomendasi bidan dari teman-teman terdekat. Masih belum berjodoh. Mayoritas masih menerapkan tindakan-tindakan medis yang tidak sejalan dengan Birth Plan-ku. Usia kandunganku sudah di penghujung 37 minggu ketika mba Dea memberiku nomor kontak bidan Maya dari Rumah Sehat Bunda. Bidan Maya adalah seorang bidan AMANI yang sudah banyak pengalamannya menangani persalinan normal-natural dan VBAC. Aku langsung menghubungi bidan Maya dan menjelaskan sikonku secara singkat di telepon. Sempat khawatir beliau tidak akan mau menanganiku, mengingat usia kandunganku yang sudah 38 minggu dan saat itu sudah pertengahan bulan Ramadhan, banyak orang sudah mencutikan usahanya dan pulang ke kampung halaman. Diluar dugaan, bidan Maya menanggapiku dengan hangat dan lembut di telepon dan Alhamdulillah ternyata beliau menyanggupi untuk membantu menangani proses persalinanku.

Rumah Sehat Bunda miliknya berada di Citayam, Depok. Sangat jauh jika harus ditempuh dari Tangerang oleh ibu yang akan melahirkan. Qodarullah, akhirnya aku dan suami memutuskan untuk homebirth. Sebelum hari H persalinan, bidan Maya dan bidan Vivi (asisten bidan Maya) survei lokasi sekaligus melakukan kunjungan pertama (homevisite) ke rumahku. Kondisiku dan janinku dicek, semua baik. Bidan Maya memintaku untuk melakukan beberapa persiapan hingga nanti saatnya melahirkan. Kesan pertamaku bertemu langsung dengan bidan Maya dan bidan Vivi sangat menyenangkan dan menenangkan. Alhamdulillah Allah mempertemukanku dengan mba Dea, bidan Maya, dan bidan Vivi. Orang-orang baik, berpengalaman, lagi profesional dibidangnya.

Usia kandunganku tepat 39 minggu ketika hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Hari kelahiran Denzel, putra pertama kami. Braxton Hick, atau yang dikenal dengan “kontraksi palsu” sudah mulai terasa sejak tanggal 23 Juni, ba’da ashar. Rasa mulasnya seperti mulas saat hari pertama haid, timbul tenggelam. Awalnya terasa tidak begitu sakit dan munculnya hanya sesekali dalam kurun waktu satu jam. Tetapi seiring hari yang semakin larut, kontraksinya semakin terasa sakit, lama, dan memberatkan. Aku ingat bagaimana sulit dan sakit rasanya hanya untuk bisa rukuk dan duduk tahiyat dalam shalat isya terakhirku sebelum melahirkan. Bulir-bulir keringat sebesar biji pepaya pun tak henti mengiringi kontraksi yang semakin malam semakin hebat kurasakan itu. Begitu kurasakan bahwa inilah harinya, aku segera memberitahu suamiku dan meminta bidan Maya segera datang. Bidan Maya dan timnya pun sigap dan langsung bersiap berangkat.

Tanggal 24 Juni 2016. Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Aku terus mencoba mengatur nafas untuk mengurangi rasa sakit, seperti yang diajarkan bidan Maya. Suamiku sibuk melap keringatku dan memperhatikan apa sudah saatnya aku ganti pakaian karena hampir setiap lima belas menit, bajuku sudah basah semua oleh keringat. Alhamdulillah suamiku sabar dan setia membantuku merasa nyaman dan tetap senang melalui masa-masa kontraksi yang tidak mudah itu. Tak lama bidan Maya dan timnya sampai di rumah. Sedikit obrolan pembuka diawal, lalu bidan Maya dan bidan Vivi pun take action.

Bidan Maya melakukan VT untuk melihat sudah pembukaan berapa. Ternyata sudah pembukaan 4. Bidan Vivi mempersiapkan peralatan dan tempatnya, yang tak lain adalah ruang keluarga di rumahku. Setiap kali kontraksi muncul, bidan Maya dan bidan Vivi memijat-mijat bagian belakang tubuhku untuk meringankan rasa sakit. Suamiku sibuk keluar-masuk dapur untuk membuatkanku segelas air madu hangat setiap kali habis dan mengambilkan hal-hal yang kubutuhkan, seperti kurma atau kompresan hangat. Melihat suamiku dan para bidan sangat sigap dan perhatian mengurusi persalinanku, aku menjadi senang dan terharu. Rasa senang dan nyaman karena dikelilingi oleh orang-orang yang tepat tentu berdampak positif pada proses pembukaan persalinanku. Kontraksi terus berlanjut. Sakit tentu sakit. Sangat. Tetapi sakitnya cukup dirasa fisik, sedangkan batin bahagia. Alhamdulillah.

Kontraksiku pun sampai pada puncaknya sekitar pukul 4 dini hari. Karena merasa sudah tidak kuat menahan sakitnya kontraksi, aku bertanya kepada bidan Maya “masih lama gak ya, mbak May?“. “Enggak, sih, sudah pembukaan lengkap. Itu kepala dedeknya sudah terlihat.“, kata bidan Maya. Kata-kata yang menyemangatiku. Betapa tidak? Dia yang kami tunggu-tunggu selama ini sudah terlihat walau hanya ujung kepalanya. Aku kuatkan hati dan diri untuk lanjut berjuang. Aku terus berganti-ganti posisi, mencari posisi melahirkan yang terasa lebih ringan sakitnya. Aku mencoba jongkok, duduk jengkang, berdiri bersandar, dan sebagainya. Ternyata posisi paling nyaman adalah yang dipilihkan bidan Maya. Yaitu suamiku duduk bersandar tembok dan aku berada di pelukan dan pangkuannya menghadap bidan Maya dan bidan Vivi (punggungku menempel pada perut dan dada suami di belakangku).

Tetiba muncul rasa sakit yang amat sangat yang kurasakan di mulut vaginaku. Terasa seperti ingin mengeluarkan sesuatu yang begitu besar, jauh melebihi ukuran pintu keluarnya. “Tidak akan bisa keluar. Ini terlalu besar!” Teriakku dalam hati. Bidan Maya dan bidan Vivi yang seolah tahu pemikiranku langsung menyemangatiku kembali.

Atur nafasnya. Sebentar lagi, mba.

Istighfar.. istighfar..

Itu dedeknya sudah kelihatan mau keluar.

Bayangkan yang indah-indah. Senyuum.

Dalam kondisi dan situasi normal, mungkin kata-kata penyemangat seperti ini terdengar biasa. Namun percayalah, kata-kata penyemangat seperti ini seolah mata air di tengah gurun sahara bagiku saat itu yang butuh sekali dikuatkan, walaupun hanya dengan kata-kata. Kuat sekali godaan untuk menyerah. Godaan untuk mencari cara cepat untuk mengakhiri rasa sakit (misalnya dengan SC atau menggunakan obat pereda rasa sakit), godaan untuk berteriak-teriak meluapkan rasa sakit, dan melupakan sabar sebagai kunci pertolonganNya. Faktanya, tidak semua nakes akan menyemangati ibu yang sedang berjuang melawan rasa sakit melahirkan. Banyak yang bahkan memanfaatkan momen ini untuk “menawarkan” SC kepada si ibu atau suaminya. Bijaklah dalam memilih nakes yang akan menangani persalinan kita.

Kembali ke persalinanku, rasa sakit itu makin menjadi dan bagian bawah tubuhku terasa panas dan seperti akan hancur. Instingku mengatakan aku hanya perlu mengejan satu kali lagi, yang terakhir dan yang paling kuat. Tetapi rasa sakitnya dan rasa pesimisku menghalangi. Mulutku mengucapkan istighfar berkali-kali, tetapi dalam hatiku aku terus berteriak “Tidak bisaa! Tidak bisaa! Tidak kuaattt!“. Hingga tetiba suamiku yang menahan dan memeluk tubuhku dari belakang ikut menyemangatiku “dedeknya udah kelihatan, dek. Ayo, sebentar lagi bisa ketemu dedek“.

Dalam sekejap kata-katanya membuncahkan semangatku. Bayangan kami akan segera bertemu dedek, melihat wajah lucunya, memeluk tubuh mungilnya, mendengarkan tangisan manjanya membuatku mengumpulkan segenap tenaga dan keberanian. Meyakinkan diri sendiri dalam hati bahwa semua akan baik-baik saja, rasa sakitnya hanya sementara, kalaupun harus robek atau hancur ya tidak mengapa yang penting anak ini selamat terlahir ke dunia. Bismillah, atas izin dan karunia Allah, dorongan terakhir sekuat tenaga itupun berhasil mengeluarkan bayiku dari perjalanan panjangnya untuk melihat dunia.

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Alhamdulillahil ladzi bini’matihi tatimush shalihat.. kami semua lega dan senang.

Gambar 1.3. Baby Denzel

Baby Denzel langsung ditimbang dan diukur usai inisiatif menyusui dini (IMD) dan delayed cord clamping (DCC). Berat badannya ternyata 2,3 kg. Tergolong kecil dan mengkhawatirkan. Aku dan suami merasa aneh, karena hasil USG terakhir di dokter Anna menunjukkan bahwa berat badan Denzel saat usia kandungan 36 minggu saja sudah 2,5 kg. Padahal Denzel lahir saat usia kandungan 39 minggu. Mungkinkah ia mengecil dan bukannya membesar dalam kurun waktu 3 minggu terakhir dalam kandungan? Ah.. barangkali Allah membuatnya begitu agar aku jadi lebih mudah melahirkannya. Biarlah ia besar di luar (bertambah pesat berat badannya setelah lahir).

 

 

Persalinan pertamaku ini menjadi pengalaman yang indah, yang selalu menyisakan senyum lega dan bahagia setiap kali aku mengingatnya. Persalinan yang tanpa induksi, tanpa epidural, tanpa jahitan. Baby Denzel pun mendapat asupan darah yang mumpuni dari DCC dan mendapatkan ASI eksklusif tanpa sufor dan tanpa asupan-asupan lain yang tidak bisa diterima tubuh mungilnya.

 

 

Selalu indah cara Allah dalam menyayangi hambaNya.

Selalu indah cara Allah dalam “membungkus” kado-kadoNya.

Tangerang, 6 Agustus 2016

Ramadhiny Susilo (Bunda Denzel)